Highlight Perkembangan Moneter Indonesia Triwulan I


Perekonomian Indonesia relatif stabil sampai dengan triwulan I tahun 2016. Kebijakan moneter menjadi panglima mempertahankan stabilitas ekonomi. Kita paham bahwa stabilitas ekonomi dalam negeri dibutuhkan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif pada negara-negara berkembang. Stabilitas sistem keuangan pada triwulan I 2016 terus membaik dengan ditopang oleh likuiditas dalam permodalan yang meningkat dan kinerja pasar keuangan yang cukup kuat. Hal tersebut ditunjukkan oleh beberapa indikator antara lain rasio kecukupan modal 21,8%, dana pihak ketiga sebesar 22% dan risiko kredit (NPL) sebesar 2,8% (gross) atau 1,4% (net).

Dengan mempertimbangkan adanya prospek dan risiko dalam perekonomian Indonesia seperti pertumbuhan ekonomi pada triwulan-triwulan mendatang yang akan semakin meningkat, inflasi yang akan tetap terjaga pada titik tengah kisaran sasaran inflasi (4+/-1%), risiko pertumbuhan perekonomian global yang masih melemah, serta penerimaan negara yang masih berada dibawah target awal, Bank Indonesia menetapkan bahwa BI Rate tetap akan berada di kisaran 6,75% dan BI 7-day Repo rate tetap berkisar 5,50%, bunga deposit facility 4,75%, dan lending facility 7,25%. Tantangan terberat adalah bagaimana mempertahankan stabilitas ekonomi dalam negeri saat perekonomian global tidak stabil.

Perekonomian dunia diprediksi tumbuh lebih lambat pada tahun 2016 berdasarkan analisa beberapa faktor. Pertama pemulihan ekonomi negara adikuasa, Amerika Serikat, yang belum solid ditandai oleh indikator ketenagakerjaan, penurunan tingkat konsumsi serta inflasi yang rendah. Bank sentral Amerika Serikat (The Fed) sangat berhati-hati dalam melakukan penyesuaian Fed Fund Rate (FFR). Padahal pengumuman penyesuaian FFR kerapkali menimbulkan gejolak nilai kurs di banyak negara. Di benua Eropa, pertumbuhan ekonomi dihantui isu keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang diputuskan dalam referendum tanggal 23 Juni 2016. Di benua Asia, raksasa ekonomi baru China menunjukan sentimen perekonomian yang positif berkat sektor konstruksi dan real estat. Namun demikian Jepang menunjukan konsumsi rumah tangga yang melambat.

Bank Sentral Republik Indonesia menetapkan bahwa BI rate tetap berada di kisaran 6,75%, sedangkan untuk BI 7-day (reverse) Repo Rate tetap berada di kisaran 5,50%. Ini dikarenakan Bank Indonesia memandang bahwa stabilitas makroekonomi masih terjaga, yang tercermin dari tingkat inflasi yang masih terkendali (4+/- 1%), defisit transaksi berjalan yang membaik dan nilai tukar yang relatif stabil.

Harga untuk beberapa komoditas seperti CPO, timah dan karet membaik dibanding tahun 2015. Dalam pasar komoditas, harga minyak dunia diperkirakan tetap rendah akibat tingginya pasokan ditengah permintaan yang melemah. Sementara itu transaksi modal dan finansial (TMF) mencatat surplus sebesar USD 4,2 miliar dan cadangan devisa pada akhir April 2016 sebesar USD 107,7 miliar.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I 2016 lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, meskipun kinerja ekspor secara keseluruhan mengalami perbaikan. Sementara itu Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit USD 0,3 Miliar. Indikator lain menunjukan defisit transaksi berjalan pada triwulan I 2016 menurun, seiring dengan meningkatnya surplus neraca perdagangan pada April 2016 sebesar USD 0,87 miliar.  Inflasi berada pada level yang rendah dan diperkirakan akan tetap terjaga pada level 4 +/- 1% sesuai sasaran inflasi 2016. Inflasi IHK April 2016 berkisar pada level -0,45% dan 3,60%.

Selama triwulan I 2016 nilai tukar rupiah menguat secara point to point sebesar 3,95% ke level Rp13.260 per USD, hingga ditutup pada April 2016 sebesar 3,55% pada level Rp13.188 per USD. Dari sisi eksternal, penguatan Rupiah ditopang oleh semakin meredanya risiko di pasar keuangan global, sejalan dengan pelonggaran kebijakan moneter di beberapa negara maju. Dari sisi domestik, penguatan tersebut didorong oleh persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian Indonesia, seiring dengan penurunan BI Rate dan paket kebijakan Pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi, serta implementasi proyek infrastruktur yang semakin efektif.  Pada bulan Mei 2016, rencana The Fed yang akan menaikan suku bunga berdampak pada nilai tukar rupiah yang melemah hingga mencapai level Rp13.600.